Ketika sang Guru mengojek

Sejak diwisuda dan menerima ijazah, rutinitas yang dikerjakan Sarjan hanya berdiri di depan papan tulis dengan senjata kapur di tangan. Goresan-goresan berwarna putih tak terasa telah melahirkan pula sarjana-sarjana bagi muridnya yang bernasib baik melanjutkan kuliah. Meski ada juga yang cuma sekadar preman pasar, polisi, tentara, pegawai negeri sipil, bahkan ada pula yang mungkin menjadi  lonte.Tapi, terus terang, tidak ada dan tidak pernah  Pak Sarjan –demikian dia bisa dipanggil murid-muridnya— mengajarkan muridnya untuk menjadi seperti yang mereka jalani sekarang ini. Entah itu polisi, tentara, sarjana, ataupun lonte. Yang ada, hanyalah bagaimana muridnya bisa berbicara, menulis, menyimak, dengan baik. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Soalnya, Sarjan Sarjana Pendidikan adalah guru pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Bahkan, terkadang dia juga mengajarkan muridnya berpuisi, menulis cerpen, bahkan bermain drama. Meski dia sendiri tak tahu, apakah ada diantara muridnya    di kemudian hari bisa menerima ajarannya dengan baik dan menerapkannya.Sarjan sendiri, sesungguhnya merupakan tipe guru yang memang pendidik. Dia tidak macam-macam. Karena kepandaiannya hanya mengajar maka dia tidak bisnis lain. Tidak ikut menjual buku, juga tidak bisnis dalam penerimaan siswa baru. Karena memang, sekolahnya sekolah swasta. Apa ada yang mau memberi duit agar bisa diterima di sekolah ini. Pernah itu diutarakannya kepada rekan kerjanya ketika mereka bercerita soal sekolah negeri yang panen kalau saat penerimaan siswa baru.Perkawinan Sarjan pun tak neko-neko. Setahun setamat kuliah, meski masih berstatus guru honor dan sampai sekarang 15 tahun kemudian masih berstatus guru honor, dia melamar gadis tetangganya. Anak seorang tukang sampah. Paini, namanya. Hasil perkawinan dengan Paini telah lahir tiga orang anak. Mereka bersyukur meski tak bisa foya-foya, kehidupan keluarga ini lumayan. Kontrak rumah yang berkamar satu, dimana dindingnya dari kayu dan atap seng, tak pernah nunggak. Begitu juga bayaran listrik.Hanya saja, yang menjadi pertanyaan Sarjan, ketika anak sulungnya sudah tamat taman kanak-kanak, ternyata umurnya belum cukup untuk masuk sekolah dasar.Kalau saja, tetangganya tidak ada yang cerita bahwa tetangganya yang lain dulu juga sama seperti anak Sarjan dan bisa diterima di SD, barangkali si sulung, Parman, masih tidak bersekolah.“Bisa. Datangi saja guru yang rumahnya di ujung lorong sana. Beri dia amplop, tak usah banyak-banyak, nanti tanpa dites   pun anakmu bisa masuk ke kelas I,” ujar sang tetangga.Sarjan awalnya tak mau. Apalagi, dia memang tahu syarat masuk SD itu mestinya 6 tahun. Istrinya lah yang ngotot. Sampai akhirnya mengambil keputusan sendiri.Sarjan tak marah ketika tahu anaknya ternyata memang bisa masuk di SD. Begitupun ketika disodori tagihan uang buku dari sekolah. Jumlahnya ternyata lebih besar dari yang mesti dikeluarkan murid-murid di SMA tempatnya mengajar.Sudahlah, pikir Sarjan, mungkin itulah nasib orang tua. Seperti itulah pula ketika di sekolahnya ada masuk guru kontrak baru. Padahal, Sarjan sendiri sudah tiga kali ikut tes guru kontrak ** tak pernah lulus sejak tahun 1999. Sementara, guru kontrak  baru itu setahunya sebelumnya belum pernah honor.Padahal, persyaratan ikut tes guru kontrak mestinya memiliki surat rekomendasi dari kepala sekolah tempatnya honor.Sarjan tak mau susah memikirkan. Yang penting baginya, bagaimana dia berhemat seirit-iritnya. Soalnya, dengan masuknya dua guru kontrak baru, sementara jumlah siswa di sekolahnya tak seberapa, berarti jumlah jam mengajarnya kurang.Itu artinya, honor yang diterimanya semakin berkurang. Dan lima tahun terakhir, memang sekolahnya semakin kurang diminati murid baru. Soalnya, fasilitas sekolah itu memang tergolong kurang. Karena berstatus terdaftar, maka kalau ujian harus menginduk dengan sekolah lain. Karenanya, saat kelulusan, biasanya sekolahnya itulah yang siswanya banyak tak lulus.Uang sekolahnya memang murah. Mungkin karena   sering banyak yang tak lulus, orang-orang tua  pun khawatir mendaftarkan ke sekolah itu. Kecuali bagi mereka yang memang terpaksa.Kini, dengan hanya mengajar dua kelas I, Sarjan hanya mengajar 10 jam seminggu. Berarti, honor yang diterimanya setiap adalah bayaran satu jam pelajaran di kali 10 jam mengajar***.   Honornya sekarang Rp 7.000 per jam. Berarti dia menerima Rp 70.000 sebulan. Beruntung, dia masih dapat honor dari tugasnya mengurus siswa dan Pramuka. Maka, digenap-genapkan dapatlah Rp 150.000. Sementara anak keduanya kini telah juga masuk SD. Kalau dulu, masih lumayan karena dia selain mengajar kelas I juga kelas II dan III.Beban tugas dengan berkurangnya jam mengajar tentu saja berkurang. Tetapi, tetap saja Sarjan harus menulis satuan pelajaran. Harus mengoreksi latihan, mengoreksi ulangan harian, meski jumlahnya juga berkurang.Dengan demikian, kini Sarjan punya banyak waktu luang. Dia lebih banyak di kantor. Hanya saja, banyak waktu luang ternyata bukan membuatnya senang. Justru pusing. Apalagi, kalau pulang, Paini selalu ngomel.Soal jajan anak, bayaran sekolah, duit beli buku, beli beras lah. Akibatnya terkadang, Sarjan pun tak sempat membuat persiapan mengajar. Padahal, seperti pernah diajarkan dosennya dulu, sebelum mengajar  harus ada persiapan. Bagaimana membuat pengantar, menggelitik siswa agar bertanya, teknik menjawab pertanyaan siswa. Tapi, itu semua kini telah tak diingatnya lagi. Beruntung, Sarjan punya rasa humor yang tinggi. Sehingga dia bisa lebih banyak membuat lelucon. Sehingga tak terasa jam pelajaran berlalu.Bagi muridnya sesungguhnya apa yang dilakukan Sarjan tak ubahnya dengan yang dilakukan guru lain yang tak siap dengan materi. Hanya saja guru lain punya cara tersendiri. Misalnya memberikan catatan. Salah seorang murid yang tulisannya bagus disuruh mencatatkan buku pelajaran yang harganya mahal ke papan tulis. Atau, mulai dari menit pertama hingga detik  terakhir jam pelajaran marah-marah.  Beruntung, suatu hari Sarjan bertemu bekas tetangganya, Iman. Dia diajak naik motor. Motor baru. Masih mengkilat. Ternyata itu motor ojek.Terpikirlah untuk ngojek. “Gimana caranya ngojek,” tanya Sarjan.“Kamu kan ngajar. Gengsi, nanti ketemu murid,” jawab sang teman yang buta huruf karena waktu kecilnya bandel dan tak mau sekolah.Sarjan tak bergeming. Akhirnya dia pun resmi jadi pengojek.    Hari pertama, dia tak sengaja membonceng seorang pegawai negeri sipil (PNS) yang mengenakan seragam Korpri. Tampaknya dia terburu-buru.Begitu tiba di tempat tujuan, Sarjan membuka helm, sang penumpang pun mengenali Sarjan. “Bapak, guru saya dulu kan,” tanya penumpang yang ternyata kini sudah jadi PNS di kantor walikota. Ongkos pun tak perlu dikembalikan. Uang Rp 20.000-an ribu masuk ke kantong. Lumayan, setoran sudah dapat.Kini sekolah tempat Sarjan mengajar heboh. Soalnya, Sarjan yang guru honor tiba-tiba bisa naik motor.“Pasti dia beli togel,” bisik-bisik guru kontrak kepada temannya. Tak satupun yang menyebut kemungkinan Sarjan korupsi. Sebagai guru, apa sih memang bisa dikorupsi. Paling korupsi waktu. “Apa bisa untuk beli motor? Beli jam saja tak bisa. Padahal, jam kan untuk mengetahui waktu,”  bisik-bisik seputar Sarjan di ruang guru.Sarjan sendiri tidak ambil peduli. Dia tetap mengajar dengan rajin. Ngojek pun kian  giat.Sekali waktu, saat ada razia, Sarjan terkena tilang. Maklum, penumpangnya tak pakai helm. Dia juga belum punya Surat Izin Mengemudi (SIM).Seorang komandan polisi mendekatinya. “Anda melakukan banyak kesalahan. Silakan  lanjutkan perjalanan. Ini saya pinjami helm untuk penumpang Anda. Besok temui saya di kantor,” ujar sang komandan yang tidak mengembalikan surat-surat motornya .Sarjan sama sekali tak tahu dan mengerti kalau sang komandan itu bekas muridnya dulu. Esoknya, dengan bantuan bekas siswanya itu, Sarjan pun mengantongi SIM. Surat tilangnya pun bisa ditebus meski tanpa siding. Sarjan sebenarnya mau menolak  kebaikan sang komandan yang begitu berwibawa di depan anak buahnya. Tetapi, dia seakan tak menemukan cara yang tepat untuk  itu.Dengan SIM di tangan, kini Sarjan pun kian giat. Bahkan kini dia pun sering ngojek sampai larut malam.Hingga suatu ketika dari sebuah hotel menghentikan laju sepeda motornya, seorang wanita berpakaian seksi. Ketika menumpang di sadel sepeda motor, berhembus aroma yang lembut. Pasti parfum mahal. Ketika sepeda motor sudah berjalan, baru wanita itu menyebut alamat yang ditujunya. Terdengar isak tangis.Tanpa diminta, wanita pun bercerita bahwa dia wanita panggilan. Tetapi dia sangat tersinggung harga dirinya ketika lelaki pelanggannya meminta layanan yang tak masuk akal. Dia terpaksa melayani. Tetapi, lelaki itu pun ditinggalkannya. Karena telah menyiksa dan memukulinya.Tak terasa sepeda motor sudah tiba di tempat tujuan. Sarjan ingat, di sini beberapa tahun lalu dia pernah mengantar siswinya yang pingsan saat pelajaran olahraga dengan menumpang becak. Ketika wanita   yang diboncengnya mau membayar, terlihat jelas siapa wanita itu. Bekas muridnya. Uang lima puluhan ribu tak disentuhnya. Sarjan pun memacu sepeda motornya. Tinggallah sang wanita melongo sembari mengelap air matanya yang terus mengalir.Kini, memang Sarjan sudah menemukan peluang. Sebagai guru dia tetap guru honor. Tidak bisnis buku, tidak bisnis siswa. Namun di luar itu, dia seorang pengojek. Teman-teman mangkalnya tahu dia adalah guru sekolah. Tetapi teman-teman gurunya tak tahu dia pengojek.Paini kini bisa lebih ramah. Dia setiap hari bisa menerima uang sisa setoran dari suaminya. Juga bisa naik motor. Anak-anaknya juga tak perlu lagi menangis kalau minta uang jajan. Saban Sabtu, setiap minggu keluarga ini pun bisa cuci mata keliling kota naik motor.Saat teman-temannya sibuk mengurus persyaratan untuk ikut tes menjadi guru PNS, Sarjan justru sibuk mengantar penumpang. Dia panen besar, mulai dari rekan-rekannya melengkapi persyaratan sampai mendaftar. Juga saat pelaksanaan seleksi. Dia merasa cukuplah menjadi guru honor. Tak ada bedanya dalam pandangan anak-anak Sarjan, apakah sang ayah guru honor atau menjadi guru yang PNS.Tugasnya, sama-sama mengajar. Yang dihadapi sama-sama anak didik. Yang membedakan cuma , kalau ayahnya   ikut tes menjadi guru PNS maka mereka harus berpisah karena sang ayah pasti ditempatkan di desa. Selain itu, mungkin mereka tak bisa lagi jalan-jalan sore dengan motor melihat matahari kembali ke peraduannya.Di benak Sarjan, nanti dia akan membeli lagi dua atau tiga sepeda motor. Lalu, motor itu kan dipercayakan kepada temannya. Dia tinggal menerima setoran. Naik pangkat menjadi  juragan ojek. Nanti, tentunya waktu untuk mengajar akan semakin banyak. Lalu istrinya Paini akan diberi modal untuk  membuka warung di rumah. Dari warung, kalau mau akan berkembang menjadi mini market.Belum lagi dia membeli motor, istrinya belum berjualan, seorang penumpangnya sudah keburu melilitkan kawat ke lehernya setelah diantar ke tempat yang sepi sesudah magrib. Sarjan pun terkapar, dan motornya berpindah tangan.Di kamarnya, bertumpuk pekerjaan rumah dan kertas ualangan midsemester belum dikoreksi. Hingga batas waktu pengumpulan nilai,  Sarjan tak sempat menyerahkan hasil koreksiannya. Akibatnya, terpaksa pembagian rapor di sekolahnya tertunda  karena nilai pelajaran yang dipegang Sarjan masih kosong dan  nilai untuk kelas yang dipercayakan kepada Sarjan sebagai walikelasnya belum sempat ditulis.Ketika ada penemuan mayat yang awalnya tak beridentitas sudah membusuk, rekan-rekan guru dan pihak sekolah tak percaya kalau yang menjadi korban penumpang ojek itu adalah Sarjan. Mereka baru sadar setelah melayat dan menghadiri pemakaman, siapa sesungguhnya Sarjan itu. Sang istri dan anak-anaknya di sela-sela isak tangisnya sempat bercerita tentang suami dan ayah mereka..
Palembang,  November 2005

* Diilhami dari tewasnya seorang tukang ojek korban perampokan dengan kondisi mengenaskan tahun 2005 lalu di Km 5 Palembang.
* Guru perbantuan sementara (GPS) yang dikontrak oleh pemerintah setiap  tahun dengan penghasilan yang lebih besar dibandign guru honor. Lebih dikenal dengan sebutan guru kontrak (kini, para guru kontrak ini sudah diangkat menjadi PNS).
** Di beberapa sekolah menengah, gaji guru honor selama sebulan diperhitungkan dari berapa jam dia mengajar dalam seminggu.

Tentang rudiasparudin

Saya masih belajar menjadi orang yang baik...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s