kesatria zirah merah

Dalam debu yang terangkat oleh angin, terlihatlah pucuk menara tertinggi dari kota yang pertama. Mentari-pun hujani kota tersebut dengan tirai surya yang menghujam lurus, bagai pilar yang menjembatani berkah dari langit, bias-bias sinarnya menyerang mata hingga terpicing dari jalur penglihatannya. Menuntun langkah kami untuk mengikuti setapak jalan yang terpahat alami oleh jejak kereta, kuda dan keledai. Rayna persis berjalan disampingku dan menatap kota tersebut dari balik kain yang menutupi wajahnya. Dalam tempo langkah yang melambat lelah, tiba-tiba Rayna memutus jejak dan diam menatapku.

“Ada apa Rayna?, Apa yang membuatmu urungkan langkah?”, Sejenak dibiarkan aku dalam tanya, lalu setelah dia mengambil nafas, Rayna menjawab dengan tegas.
“Kau Reth, kau harus berhati-hati.”

Akupun langsung paham dengan jalan pikiran Rayna. Karena aku adalah seorang jenderal perang yang melarikan tahanan perang, maka besar kemungkinan aku adalah pelarian yang dicari, lagi pula kota ini adalah wilayah dari kerajaan Visgoth. Dan didepan kami sekarang terbentang pintu masuk menuju Elvan, sebuah kota yang menerima Visgoth sebagai inangnya. Sebenarnya Elvan sendiri adalah sebuah kerajaan, yang memiliki figur raja. Hanya saja saking besar dan kuatnya pengaruh dan kedaulatan Kerajaan Visgoth pada Elvan, maka Elvan layaknya hanya seperti salah satu kota dari Visgoth. Dan inipun terjadi pada hampir semua daerah kekuasaan Visgoth.

“Reth, aku benar-benar khawatir. Tidak bisakah kita tidak melewati kota ini?”

“Rayna percayalah kau tidak akan pernah mencapai tujuan dalam kekhawatiran. Lagipula kota ini pasti menyediakan banyak perbekalan untuk melanjutkan perjalanan.”

Dalam hati, aku membayangkan zirah merah “Vermel” yang tentu saja sudah dipastikan adalah sebuah berita besar dikota tersebut. Sebuah kesalahan fatal bisa terjadi dikota ini. Maksudku bagaimana bila ada seseorang yang mengenaliku. Tapi sebuah kota untuk perjalanan panjang adalah penting, setidaknya keramaian yang ditimbulkan kota tersebut membuat kami kembali merasa menjadi bagian dari manusia sebagai mahluk sosial. Dan lebih jauh kami bisa mendapat informasi, perbekalan, dan perbaikan. Semoga saja topeng-ku tidak terbuka secepat ini dikota tersebut.

Dalam langkah yang kubuat senyaman mungkin aku dan Rayna perlahan melewati beberapa penjaga kota Elvan, aku hanya berani melihat pada bawah depan ujung kakiku saja. Rayna memegang bahuku dan menyembunyikan wajahnya pada balik punggungku. Penjagaan kota Elvan sebenarnya tidak terlalu ketat. Seorang prajurit malah akan menganggap dirinya wisata bila dikirim untuk patroli dikota ini. Elvan adalah salah satu kota persimpangan, diantara pusat kerajaan adikuasa Visgoth dengan dataran Lira. Dimana dataran Lira adalah sebuah dataran, dimana banyak kerajaan-kerajaan kecil yang menolak kekuasaan Visgoth. Dan disalah satu kerajaan kecil itulah tempat Rayna berasal.

Elvan disebut juga sebagai Kota Gerbang Utara. Lewat dari Elvan dan terus kearah utara barulah terdapat kota-kota yang dijaga ketat. Semakin jauh keutara, dekat dengan petempuran Visgoth dengan sekutu-sekutu kerajaan dari Dataran Lira, maka penjagaanpun bukan hanya berdasar pos jaga tapi sudah lebih kepada organisasi yang dibuat secara rahasia dan berbaur pada masyarakat. Atas dasar pertimbangan itulah maka kota paling aman dan paling bagus untuk memulai perjalanan panjang tentu saja adalah Kota Elvan.

Jarak langkah menipis pada sebuah pintu kayu yang dijaga beberapa kesatria bertombak. Aku berlindung pada rambut panjang yang kuningnya mencoklat karena tanah dan janggut yang menebal pada wajahku, dan terus tertunduk pada tanah yang kususuri. Rayna menutup mukanya dengan tudung kain yang sama mencoklat karena terjemur hari dan tersiram debu. Didepan kami sebuah kerumunan diperiksa teliti oleh beberapa penjaga, dan satu persatu para tamu kota Elvan tersebut memasuki gerbang kota. Tibalah giliran kami untuk diperiksa, penjaga mulai menyusuri setiap jengkal rupa kami. Seorang penjaga tiba-tiba mendekat dan melihatku lebih teliti. Ditariknya tanganku dan diapun menelitinya menyusuri cincin pada jemariku. Aku seketika tercekat karena cincin itu mempunyai simbol kerajaan Visgoth. Seketika aku tercetus ide yang sedikit nekat.

“Diamlah atau aku terpaksa membunuhmu, untuk pertahankan kerahasiaan misi kami.” Aku perlahan menarik tubuhnya mendekat padaku dan berkata lanjut, “Misi kami adalah dari surga, darah kami untuk Nizry.” Kata terakhir yang kuucapkan membuat dia memucat dan tidak berkata. Dalam katanya yang membeku aku meneruskan ancaman, “Jangan bilang ini pada siapapun. Dan bila ini diketahui oleh petinggi kerajaaan Elvan kami para pendeta Nizri akan tau siapa dalang penyebar kabar itu.” Sebagai pemungkas aku tekan titik darah pada nadi ketiak yang membuat lengan mati rasa karena aliran darah tersumbat seketika. Lalu secepat itu pula aku bebaskan kembali. Tentara itu terdiam tidak berkata dan mulai mengigil. Titik darah adalah pengetahuan tambahanku sebagai “Vermel” ini termasuk dalam seni melumpuhkan diam-diam.

“Hei ada apa dengan kalian?” Teman sang prajurit mendekat dan mulai curiga.
“Tidak kupikir dia seorang penjual budak, tadinya aku mau bertanya apa budak wanita yang dia bawa bisa kusewa sementara.” Prajurit yang kuancam berkata lugas dan spontan.
“Maaf tuan budak ini mau kucoba untuk ditawarkan pada raja kota ini.” Aku berujar mengikuti sandiwara yang terbangun spontan itu.
“Wanita yang cantik sepertinya kau akan menuai keuntungan tuan ha ha ha.” Para penjaga mulai tertawa dan suasanapun mencair.
Rayna tersipu merah dan menunduk malu mendengar celoteh ramai kami. Wajah rayna memang sempurna dan cantik bahkan ketika hari terik dan dingin malam mengeringkan kulitnya, Rayna masih jelita dalam rupa. Akupun bungkukkan tubuh dan menghormat pada para penjaga, lalu menarik tangan Rayna dan mulai memasuki kota.

“Lalu selanjutnya apa tuan?” Rayna keluarkan nada protes.
“Ada ide lebih baik putri?” Rayna tersenyum sekilas dan kembali ikuti langkahku.

Semua rencana menguap dan hilang ditengah ramai kota. Perlahan kupelajari kembali pemadangan yang terhampar dari tingkat kuberada kini. Semua asing karena selama ini diriku melihat dari kuda dengan diiringi tatap tertunduk dan aku selalu berlalu diantara tatapan yang memusat pada diriku. Sekarang ramai ini berlalu tanpa ada kepedulian pada diriku. Dan entah kenapa sensasi baru ini malah membuat diri ini terasa bebas.

Bangunan yang tersusun dari batu pasir berjejer acak. Semakin memusat pada pusat kota, situasi Elvan semakin menggila. Para penduduk sibuk dengan urusan dirinya masing-masing, lalu ditengah ramainya keadaan sesekali aku melihat para gelandangan penderita kusta. Tubuh mereka seperti mumi diperban dengan kain. Belum lagi para penyebar agama berteriak mengenai konsep satu tuhan. Kami semakin dekat dengan pusat perdagangan, Rayna sepertinya tidak melihat apa yang kuperhatikan dia terus berjalan dengan tertunduk disampingku.

“Reth sebaiknya kita berbicara dengan penduduk kota mengenai dataran Lira, aku penasaran apa yang terjadi pada tempat asalku.” Rayna bersuara pelan.

“Kita harus hati-hati Rayna, karena bila kita bertanya pada orang yang salah itu sama saja dengan memberitahu siapa kita.”

“Kalau begitu apa yang harus kita lakukan Reth?” Rayna tampak bimbang.

“Kita harus kepasar dan mendapat informasi tanpa bertanya.” Aku tersenyum pada Rayna, dan meninggalkan jejak bingung pada wajahnya.

Kami terus berjalan dan tuntaskan langkah pada pintu masuk pasar. Dalam lingkup penglihatanku perlahan aku susuri tingkah laku masing-masing orang yang lalu-lalang. Sampai aku tertarik melihat pedagang yang menggelar dagangannya dalam sunyi. Seseorang yang pas untuk kuajak bicara tanpa terganggu pembeli lainnya. Akupun memainkan psikologisku, sebuah ilmu jiwa yang aku pelajari untuk menyelidiki ruang pikiran seseorang. Dengan ilmu ini aku bisa membaca kejiwaan seseorang apakah dia berkhianat atau tidak. Cukup membantuku untuk menghindari konspirasi yang mungkin saja tersusun dan ancam keberlangsungan hidupku.

“Siang saudaraku” Sambil kupasang senyum seramah mungkin.

Pedagang itu melihatku sekilas dan membalas salamku. “Siang tuan adakah dari barangku yang membuatmu tertarik aku akan memberimu harga murah kalau kau membeli banyak.” Katanya sambil tersenyum.

Akupun melihat barang-barangnya yang lebih tepat disebut rongsok dibanding barang dagangan. Tidak ada barang khusus pada dagangannya.

“Ah saudara aku melihat kau yang memisahkan diri dari kerumunan pedagang lain aku langsung merasa kau menjual sesuatu yang spesial. Bisakah kau tunjukan beberapa barang yang istimewa??”

“Ahh kau pasti suka ini tuan.” katanya sambil menunjuk tumpukan barang yang berserak tidak teratur dan mengambil sebuah tempat minum dan beberapa selimut yang sedikit mewah.

“Hmmm… tuan apa istimewanya?? Kau hanya menunjukan tempat minum saja, bagaimana hal itu bisa istimewa?”

“Sebenarnya aku membeli barang-barang ini semua dengan harga murah di kota-kota tempat peperangan berlangsung tuan banyak penduduk yang akhirnya menjual barang-barang mereka dengan harga yang sangat murah untuk bekal perbekalan dan juga malah sebagian dari barang-barang ini kudapatkan gratis.”

“Baiklah aku mengerti, tapi sejujurnya barang-barangmu tidak ada yang membuatmu tertarik tapi melihat dirimu aku merasa kau punya sesuatu yang kubutuhkan.”

“Apa itu tuan.” Sang pedagang mengerutkan kening.

“Informasi.” Kataku singkat.

“Ah… aku tidak tau apa-apa tuan kenapa kau berpikir aku tau sesuatu yang kaubutuhkan?” Sang pedagang berkata pelan.

“Tenanglah informasi yang kubutuhkan tidak akan membuatmu terjerumus bahaya dan juga aku hanya orang biasa saja. Aku hanya mau tau bagaimana keadaan kota-kota di dataran Lira.”

“Tuan apa yang kau harap dari sebuah tempat yang diserang oleh kerajaan Visgot?.” Pedagang itu lalu memandang padaku dan seketika menjawab sendiri pertanyaannya. “Ah aku tahu kau punya saudara disana atau kalian berdua berasal dari sana?”

“Tidak dua-duanya aku memotong ucapannya aku adalah pengembara yang menuju daerah Tria aku berencana untuk mengunjungi saudaraku disana. Jadi aku berencana untuk mengetahui jalur yang aman.” Aku memotong langsung anggapannya. Karena ketika dirimu diketahui berasal dari daerah yang kalah perang maka dirimu tidak berharga lagi. Dengan kata lain bila ada yang menangkapmu dan menjualmu menjadi budak maka hal itu sah saja.

“Tuan daerah Lira banyak para pemberani dan sudah sifat Raja Visgoth yang benar-benar kejam pada para pembangkang maka daerah mereka dibumi hanguskan. Lagipula…”

“TIDAKKKK!!! Katakan itu tidak benar…” Rayna tiba-tiba maju dan berteriak histeris.”

“DIAM KAU BUDAK!!!,..” Aku spontan menghardik Rayna dan memukul perutnya hingga pingsan. Akupun langsung berlalu dan membopong tubuh Rayna yang tidak sadarkan diri dan meninggalkan sang penjual yang diam terpaku.

Sekarang dalam kegalauan hati yang teramat sangat aku terus berlalu menembus semua pandangan penuh selidik orang lalu lalang. Hatiku kini sangat tidak tenang kalau saja hal tadi tidak dilakukan akan terbongkar semua kedok kami dan bisa saja akhirnya semua maksud kami tidak tercapai.

Tentang rudiasparudin

Saya masih belajar menjadi orang yang baik...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s