Dua anak surga di tengah lumpur

Allahu akbar, Allah Maha Besar, ku memuja-Mu di setiap waktu”. Begitulah petikan laguku ketika menjalani kegiatanku yaitu mengamen. Sekali-kali lagu yang aku nyanyikan, lupa dengan sendirinya, dan aku hanya bisa bernyanyi dengan bunyi “na…na…na…”, tidak sedikit penumpang yang tertawa melihatku, entah itu tertawa karena aku lucu ketika bernyanyi lupa liriknya ataukah lucu karena mengejekku dalam bernyanyi. Buatku itu tidak berarti sedikitpun, yang terpenting aku bernyanyi dan mendapatkan uang bagi bosku. Bosku termasuk galak dalam menagih setoran, jika setoran tidak cukup, tangannya pun langsung menamparku. Aku hanya bisa meringis menahan sakit. Sekalipun bosku berperilaku seperti itu, ia sudah menyediakan tempat tinggal dan makanan buatku dan teman-temanku yang profesinya hampir sama.Namaku? Aku sendiri tidak tahu namaku sebenarnya siapa dan orangtuaku siapa. Aku hanya diberi nama “Tuti”. Nama yang mudah dan gampang diingat, merupakan pemberian dari bosku. Semalam aku sempat bertanya pada bosku, entah sudah berapa kali aku bertanya mengenai hal yang sama, “Bos, sebenarnya aku lahir di mana dan namaku siapa?”. “Kamu ini setiap malam tanya itu-itu aja, apa kamu gag bosan? Lagipula buat apa sih kamu nanya lahir di mana dan namamu siapa? Memang ada yang peduli dengan kamu, kamu udah ketemu sama saya saja sudah untung. Udah sana kamu tidur, besok kamu musti cari setoran lagi buat saya. Awas kalau kurang lagi seperti hari ini!”. Aku hanya menanggapi dengan ketakutan seraya berkata, “Iya, bos.” Padahal masih banyak hal-hal bingung di kepalaku terutama umurku. Dilihat dari fisik-ku yang kecil, aku hanya bisa menerka-nerka berumur 8 atau 9 tahun.Hari menjelang siang, peluh keringatku sudah membanjiri bajuku yang membuatku semakin merasa tidak nyaman. Dan aku tahu di mana agar keringat ini bisa segera hilang. Tanpa aba-aba lagi, aku langsung menuju tempat yang biasa aku datangi setiap hari. Sebuah masjid lumayan besar di pusat kota Jakarta merupakan tempat paling nyaman buatku. Selain masjid itu memakai AC (kata teman-temanku yang menjelaskan udara dingin keluar dari benda itu, sekalipun aku tetap tidak mengerti, he…he…he…), dan lantunan suara orang-orang yang mengaji. Entah kenapa perasaan ini begitu sejuk di badan dan hatiku, yang membuat aku betah berlama-lama di dalam masjid. Tetapi aku tidak bisa berlama-lama, karena aku harus melanjutkan pekerjaanku. Sekitar 15-30 menit aku di dalam masjid, aku langsung beranjak pergi mengamen lagi.Setelah selesai mengamen kira-kira jam 7 malam, aku pulang bersama teman-temanku. Aku bersyukur setoran hari ini melebihi batas yang diberikan bosku, dan berarti aku tidak kena pukul lagi. Tapi, aku melihat salah seorang temanku dengan raut wajah sedih dan ketakutan. Seketika itu aku bertanya, “Kamu kenapa, ni? Kok muka Nani sedih dan ketakutan kayak gitu? Apa Nani ada masalah?” Nani ingin bercerita ke temannya, tapi ia tidak mau temannya itu merasa direpotkan karena masalah ini. Jadi ia hanya diam seribu bahasa. Aku yang merasa penasaran dan ingin sekali membantunya tetap berusaha untuk bertanya. Siapa tahu aku bisa bantu, karena Nani adalah temanku yang paling akrab. “Ni, kenapa tidak mau cerita? Jangan malu untuk bercerita sama Tuti, Tuti pasti akan membantu Nani sebisa mungkin.” Nani menatapnya, dari tatapannya ia mencoba untuk yakin bahwa aku akan membantunya. Kemudian ia bercerita, “Gini, ti. Nani bingung setoran yang Nani dapat tidak cukup untuk bos. Padahal sudah dua hari ini Nani kena pukul sama bos, karena setoran yang Nani dapat tidak cukup terus. Nani takut, ti. Takut dipukul lagi ama bos.” Tangisan Nani seketika itu juga tumpah membasahi pipinya yang seperti buah persik. Jika wajah Nani tidak disertai dengan tangisan, sungguh Nani adalah seorang anak yang lucu dan manis. Tetapi yang di hadapanku sekarang adalah Nani yang benar-benar takut akan perlakuan bosnya, karena setoran yang ia dapat tidak mencukupi.Aku bimbang, aku ingin membantu Nani. Tapi kalau aku membantu Nani, aku yang akan kena pukul dari bos. Tapi kalo aku tidak membantu Nani, Nani yang kena pukul. “Ni, ini Tuti kasih uang setoranku ke Nani. Nani jangan nangis lagi ya.” “Tapi ti, Nani gag enak ama Tuti. Nanti Tuti yang kena pukul ama bos.” Aku hanya berkata, “Sudah gak apa-apa. Jangan memikirkan Tuti.” Perasaan Nani sangat senang karena aku membantunya. Ia hanya berkata, “Makasih ya Ti.” Aku hanya memberikan senyuman pada Nani sebagai pengganti jawaban, “Ya sama-sama Nani.”****Ringisan kesakitan terdengar dari sudut halaman rumah bosnya. Jika ada seseorang yang melewati rumahnya mungkin akan disangka hantu. Tetapi suara itu bukan berasal dari hantu, melainkan suara aku. Aku meringis kesakitan akibat perlakuan bosku. Aku teringat kembali perkataan bos sejam yang lalu. “Apa ini? Cuma segini setoran yang kamu dapat, hah? Kan saya sudah bilang ke kamu, jangan sampai kurang setoran yang kamu dapat.” PLAKK!!. Tamparan itu mengenai wajahku sampai aku terjatuh. Seketika itu pula aku menangis kesakitan. Bahkan bosku tidak menaruh hati dari tangisan yang aku keluarkan. Ini murni tangisanku yang sudah tersakiti fisik dan hati. “Sudah, sana kamu tidur! Besok jangan sampai kamu mengulangi hal seperti ini lagi!” Aku tidak menjawab apa-apa, aku hanya bangun dan keluar dari ruangannya.Aku tidak ada niat untuk kembali ke kamar dan tidur. Aku melangkahkan kaki ke pojok halaman rumah yang terdapat pohon beringin sampai saat ini. Aku sama sekali tidak menyesal telah menolong temanku. Aku sama sekali tidak menyesal aku menerima tamparan dari bosku. Yang aku sesali adalah jika ada temanku yang kesusahan, aku tidak menolongnya dan menganggap kejadian itu tidak ada.Aku mengadu kepada Allah tanpa menghujat kepada Allah. Entah sudah berapa kali aku mengadu kepada Allah seperti ini.Ya Allah…Apakah ini Jalan yang paling tepat buatkuBerada di tengah-tengah “Lumpur” iniMencari uang karena tuntutan boskuBukan karena kebutuhanku untuk hidupYa Allah…Aku iri kepada anak-anak lain yang mempunyai keluargaMereka jalan-jalan bersama orangtuanyaMereka diajari salat dan membaca al-Qur’anMereka pergi salat ke masjid bersama-samaMereka diantar ke sekolah oleh orangtuanyaYa Allah…Aku hanya ingin seperti merekaMempunyai keluargaDiajari salat dan membaca al-Qur’anYa Allah…Apakah permintaan-ku ini terlalu berat buat-MUAku minta maaf kepada-MUKarena aku mengenal-MU hanya sebatas NamaTidak mengenal-MU dengan melakukan beribadah kepada-MUJujur aku ingin mengenal-MU dengan beribadahTetapi aku tidak mempunyai pembimbingYa Allah…Berikanlah aku pembimbing terbaikAgar aku bisa beribadah kepada-MUDan mengenal-MU lebih baikAgar aku dapat keluar dari “Lumpur” ini Air mataku keluar tiada henti. Aku mencoba untuk menyekanya dan bergegas kembali ke kamar untuk tidur. Dalam tidurku aku hanya bisa berdoa agar semua masalah yang aku hadapi mendapatkan jalan keluar dan cepat terselesaikan.****Keesokan harinya, aku melakukan aktivitas seperti biasa. Mengamen di bus atau angkot. Menyanyikan beberapa lagu yang menurutku aku bisa menyanyikannya. Dan di sini aku mengajak Nani untuk mengamen bersamaku. Ketika waktu menjelang siang, aku seperti biasa pergi ke masjid di pusat kota. Yang berbeda adalah aku mengajak temanku juga ke masjid, yaitu Nani. Sebelumnya aku belum pernah mengajak siapa pun ke masjid, hanya aku sendiri. Tanpa disadari olehku, Allah telah memberikan jawaban doaku tadi malam.Ketika sampai di masjid, aku mengajak Nani masuk ke dalam dan mendengarkan orang yang sedang melantunkan ayat-ayat al-Qur’an. Seperti biasa, aku sangat tenang ketika mendengarkannya, dan ketika aku menoleh ke Nani, ternyata Nani juga menikmatinya. Aku hanya tersenyum sendiri. Ketika itu ada suami-istri yang memperhatikan ke arahku dan Nani, tetapi aku belum sadar bahwa aku dan Nani sedang diperhatikan. Istri dari suami itu menghampiriku dan Nani sambil berkata, “Adek, lagi ngapain di sini? Saya sering melihat adek setiap menjelang siang ke masjid ini.” Aku kaget karena tiba-tiba ditegur oleh seorang perempuan. Aku jadi grogi untuk menjawab, “Umm…eh… Gag kok, bu. Saya hanya senang kalau ke sini.” “Kenapa adek senang ke sini? Dan ini temannya?” Tanya ibu seraya menanyakan temanku. “Iya ini temanku namanya Nani. Saya juga gag tau, bu. Setiap kali saya ke sini, saya merasa tenang dan suara orang-orang yang mengaji membuat telinga saya nyaman.” Ibu itu hanya tersenyum. “Ya ampun, udah jam segini. Kita udah kelamaan di sini. Nani, ayo kita ngamen lagi, nanti bos kita marah-marah lagi kalau setorannya kurang.” Ujarku terburu2. “Adek, nama adek siapa? Besok ke sini lagi?” “Namaku Tuti, bu. Iya, besok aku ke sini lagi.” Ibu itu langsung tersenyum dan berkata, “Besok, ibu akan berikan apa yang kamu mau dan Ibu akan tunggu di masjid ini.” Aku hanya berkata singkat, “Iya, bu.”****Ketika aku pulang mengamen bersama Nani jam 7 malem, aku selalu teringat perkataan Ibu tadi. Aku sekali-kali bertanya sama Nani. “Ni, menurut kamu apa ya maksud perkataan Ibu di masjid tadi?” “Perkataan yang mana?” Tanya Nani bingung. “Itu loh yang bilang ia akan berikan apa yang aku mau.” “Oh, yang itu. Mungkin kamu bakal dikasih hadiah kali. Kamu minta aja apa yang kamu mau.” Aku hanya menanggapinya dengan singkat, “Oh begitu ya.”Dalam perjalanan aku masih terus memikirkan kata-kata ibu itu. Dan tanpa sadar, aku udah di depan bosku. “Gimana? Setoran hari ini? Cukup atau kurang seperti kemaren?” Aku kaget sekaligus gelagapan, “Umm, eh iya bos. Setoran hari ini cukup.” “Nah gitu dong kalau kerja, jangan kayak kemaren. Yaudah sana makan dulu dan langsung tidur.” Aku beranjak keluar dan tidak langsung makan. Aku ingin memikirkan perkataan ibu itu di tempat tenang, yaitu di bawah pohon beringin di pojok halaman rumah. Kalau benar ibu itu mau memberikan apa yang aku mau, aku ingin diajari salat dan membaca al-Qur’an. Ya hanya itu yang aku mau. Aku begitu senang malam ini bahwa besok aku bisa diajari salat dan baca al-Qur’an.Aku langsung makan dan berangkat untuk tidur. Dan aku sangat yakin bahwa aku akan mimpi indah malam ini, karena hatiku lagi sangat bahagia.****Keesokan harinya, aku melakukan kegiatanku seperti biasa. Ketika menjelang siang, aku dan Nani bergegas ke masjid untuk menemui ibu itu. Ketika bertemu, ibu itu langsung menanyakan, “Gimana, apa yang kamu mau sekarang ini? Insya Allah ibu akan menyanggupinya.” Dengan hati-hati, aku berkata, “Aku ingin diajari salat dan membaca al-Qur’an, bu. Aku selama ini mengenal tuhanku hanya sebatas nama. Tidak melakukannya dengan beribadah.” Begitu kaget ibu itu mendengar perkataanku, bukan kaget karena marah, tetapi kaget karena anak sekecil ini sudah ingin mengenal tuhannya dengan beribadah. Ibu itu menahan haru sambil berkata, “Iya, nak. Sangat boleh. Ibu akan mengajarimu salat dan membaca al-Qur’an. Dan ibu lupa memperkenalkan diri, nama ibu, ibu Zahara. Dan ini suami ibu, namanya bapak Ilham. Sang suami hanya tersenyum ketika memperkenalkan diri. Menurutku senyum dari ibu Zahara dan bapak Ilham adalah senyum pertama yang aku rasakan selama hidupku. Selama hidupku hanya kemarahan yang tertampak dari orang-orang sekitar.Sejak pertemuan itu, aku dan Nani diajari salat dan mengaji setiap hari. Tetapi dari kegiatanku dan Nani, aku sama sekali tidak melupakan pekerjaan yaitu mengamen. Agar bisa memberikan setorang pada bosku. Ketika kegiatan di masjid sudah berjalan sekitar 1 bulan, ibu Zahara dan bapak Ilham mengajak bicara kepadaku dan Nani. “Tuti dan Nani. Mungkin kalian berpikiran kenapa ibu dan bapak sama sekali tidak terlihat membawa anak ke masjid setiap harinya.” Ibu Zahara ingin melanjutkan perkataannya, tetapi tidak sanggup dan kemudian dilanjutkan oleh bapak Ilham, “Jadi begini, saya dan istri saya mendapatkan cobaan dari Allah yaitu tidak bisa mempunyai anak.” Seketika bapak Ilham tidak sanggup untuk melanjutkan, tetapi ia bisa mengendalikan diri dan melanjutkan pembicaraannya, “Bapak dan ibu ingin mengangkat kalian berdua sebagai anak kami.” Aku dan Nani seketika itu kaget bercampur senang, karena mereka berdua bisa mempunyai keluarga yang bisa mendekatkan diri kepada Allah. Tetapi Nani merasa ragu dan berujar, “Tapi pak, bos kami bisa marah karena kami akan diangkat menjadi anak bapak dan ibu. Apa yang harus kami lakukan?” “Begini saja, kalian berbicara dulu kepada bos kalian, bahwa ada yang ingin mengangkat kalian menjadi anak kami,” ujar bapak Ilham. “Baik pak, akan kami coba.” Lalu mereka pergi mengamen dan pulang ke rumah jam 7 malam.****“Apa yang kalian bilang? Kalian diangkat menjadi anak sama keluarga yang tidak tahu asal muasalnya? Kalian lebih memilih menjadi anak angkat mereka daripada saya yang sudah mengurus kalian sejak bayi sampai sekarang?” Aku dan Nani hanya terdiam ketakutan. Dan aku-pun berkata, “Tapi bos, mereka mengajariku salat dan mengaji. Aku di sini tidak mendapatkan itu.” “Alah, kalian kira dengan salat dan mengaji kalian bisa hidup, hah? Sekarang terserah kalian, kalian mau ikut mereka atau ikut saya? Sekalipun kalian ikut mereka, aku juga tidak rugi. Masih banyak anak-anak lain yang masih ingin bekerja sama saya. Sana pergi dan jangan tinggal di sini lagi,” bentak bos kepada kami berdua.Aku dan Nani lebih baik pergi dari sini, dari “lumpur” ini. Tetapi, aku dan Nani bingung, kemana kita harus bermalam hari ini dan seterusnya. Aku langsung tahu ke mana harus kita tuju, begitu juga Nani. Aku dan Nani beranjak pergi ke masjid di pusat kota. Sebelum aku ke masjid, aku dan Nani membeli sedikit makanan untuk dimakan malam ini. Uangku masih tersisa untuk membeli makanan dari mengamen tadi siang. Setelah membeli makanan, aku dan Nani pergi ke masjid dan memakan makanan yang dibeli tadi. Setelah perut sudah kenyang, tidak terasa mataku dan mata Nani terasa berat. Tidak lama kemudian tidur pun menghampiri kita berdua.****Keesokan harinya, aku dan Nani bangun dan mencuci muka. Setelah itu, aku dan Nani pergi mengamen seperti biasa. Yang berbeda sekarang adalah, kita tidak dituntut untuk mencari setoran pada bos. Kita menjalankannya dengan suka cita. Ketika waktu menjelang siang, aku dan Nani bergegas pergi ke masjid untuk memberikan jawaban kepada bapak Ilham dan ibu Zahrana. Ketika kami akan memberikan jawabannya, terlihat raut wajah bapak Ilham dan ibu Zahrana tidak sabar dan harap-harap cemas, apakah jawaban yang mereka dapat.“Ibu…bapak…. Kami udah menanyakan kepada bos kami. Ia mengatakan bahwa kalau kami ingin diangkat ama ibu dan bapak, kami diusir dari tempat tinggal bos. Dan dari situ kami sudah menetapkan bahwa kami ingin pergi dari tempat tinggal itu, karena dari bapak dan ibu, kami diajarkan untuk mengenal lebih dekat kepada Allah dengan beribadah dan mengaji. Sudah kami tunggu selama ini untuk keluar dari “lumpur” yang selama ini kami jalani. Dan baru sekarang jalan ini terlihat, yaitu melalui ibu dan bapak. Aku berdo’a selalu kepada Allah, agar aku bisa keluar dari “lumpur” ini, dan Allah mendengarkan do’aku untuk aku dan Nani.” Air mataku dan Nani keluar tiada henti. “Aku bersyukur kepada Allah telah mengirim ibu Zahrana dan bapak Ilham untuk mengeluarkanku dari “lumpur” ini. Makasih buat ibu dan bapak.” Air mata ibu Zahrana dan bapak Ilham ikut keluar menahan haru sambil berkata, “Iya nak, sama-sama. Sekarang panggil ibu dan bapak dengan sebutan ummi dan abi ya.” Seketika itu juga aku dan Nani memeluk dua orang yang mulai sekarang dan selamanya akan selalu menjadi kedua orangtua kami dan berkata, “Ummi… Abi… Kami berdua sayang sama ummi dan abi.” “Begitu juga kami, sayang. Kalian adalah buah hati yang Allah turunkan buat ummi dan abi.”Tidak akan pernah aku lupakan saat-saat terindah ketika aku bertemu seorang pembimbing yang terbaik menurut Allah, begitu juga Nani. Dalam pelukan abi dan ummi, aku hanya bisa berdo’a,Ya Allah…Kini telah kau pertemukan aku dan temankuPembimbing yang terbaik untuk beribadah kepada-MUPembimbing yang terbaik agar aku tidak melupakan-MUYa Allah…Mulut ini tidak akan berhenti untuk bersyukur kepada-MUBertasbih kepada-MUBeribadah kepada-MUKarena kau telah mengeluarkan aku dan temankuDari “lumpur” yang telah aku dan temanku lalui sejak lahir…Ya Allah…Jadikanlah aku dan temanku ini penghuni surga-MUBegitu pula pembimbingkuAgar aku dan temanku bisa menjadi anak penghuni surgaYang bisa membahagiakan pembimbingkuYaitu kedua orangtua kami..Amin Allahumma Amin Tangisan kebahagiaanku dan Nani tidak bisa dihentikan, begitu pula abi dan ummi. Semua menangis sambil mengucapkan syukur kepada Allah SWT. Kami hanya berharap kebahagiaan ini akan terus hadir di dalam kehidupan.

Tentang rudiasparudin

Saya masih belajar menjadi orang yang baik...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s